TELEVISI MENJAJAH “HIDUP” ANAK KITA

22-Nov-2012 10:12:41 WIB | RUANG OPINI | 328 Views |

Penulis : Sultan Sulaiman

Televisi bukan lagi barang mewah. Perangkat ini menghiasai hampir setiap rumah dari kota hingga pelosok desa. Keberadaan televisi dewasa ini rasanya sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat secara umum. Televisi telah menjadi kebutuhan primer banyak orang. 


 
Televisi sebagai media komunikasi visual banyak memberikan kontribusi terhadap proses transmisi pesan lintas daerah, negara, bahkan dunia. Televisi bisa menghadirkan ragam informasi di jagad raya hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Keberadaannya memberikan pengaruh besar terhadap pergulatan wacana dari elite hingga kalangan bawah. Sifatnya yang mentransfer pesan dengan cara sederhana dalam bentuk bahasa rupa (moving audiovisual media) menjadikan televisi salah satu media yang sangat diminati. Bukan hanya orang tua, tetapi juga remaja sampai anak-anak, beragam kelompok usia, seolah tak bisa hidup tanpa televisi. 

 


Namun demikian, kehadiran televisi pada satu sisi juga menghadirkan ragam momok menakutkan di tengah masyarakat kita. Efek negatif televisi telah banyak diperbincangkan, utamanya pengaruh yang ditimbulkannya pada perkembangan anak. Mungkin hal ini tak pernah diprediksi sebelumnya oleh Paul Nipkow sang penemu. Tapi kenyataannya, televisi dipastikan banyak merusak anak-anak kita yang menggantungkan kegiatan hariannya di depan “kota ajaib” ini. 

 


Betapa mudah menemukan ragam perilaku janggal yang kerap dilakonkan anak-anak kita. Mulai dari kekerasan, kurangnya minat belajar, sampai ragam laku tidak terpuji yang ditampilkan sangat renyah di hadapan kita. Sekilas, muncul pertanyaan “Ada apa dengan anak ini?”. Padahal jika ditelusuri, perilaku janggal anak-anak kita kerap muncul sebagai hasil doktrinasi tayangan televisi yang kurang mendidik. 

 


Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan Universitas Michigan dan Montreal terhadap 1.300. Penelitian yang dilansir jurnal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine ini, menyebut bahwa rata-rata anak-anak di bawah usia empat tahun yang memiliki kebiasaan menonton televisi antara 9-15 jam/hari mengalami kelambanan dalam mencerna pelajaran jika telah memasuki usia sekolah. Bukan hanya itu, dampak kesehatan berupa menurunnya aktivitas fisik akibat meningkatnya berat badan karena kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman siap saji juga bisa terjadi. 

 


Lebih lanjut, Dr Linda Pagani dari Universitas Montreal yang memimpin penelitian tersebut mengungkapkan "Usia dini adalah masa kritis untuk perkembangan otak dan pembentukan perilaku." Dengan demikian, jika hampir seluruh waktu harian anak-anak kita tersedot di depan televisi, bisa dipastikan perkembangan otak dan perilakunya akan terganggu. Hal ini disebabkan oleh mayoritas tayangan televisi kita dewasa ini tidak sehat.

 


Sebagian dari orang tua amat bangga ketika anak-anak mereka sudah pintar menyanyikan ragam lagu orang dewasa yang kerap ditontonnya di layar televisi. Padahal harusnya hal semacam ini membuat kita makin waspada, betapa generasi kita telah tersengat oleh bisa beracun televisi di rumah kita. Jika terus dibiarkan. perilaku menggemaskan anak-anak kita itu kelak justru akan berubah menjadi mimpi buruk di masa depan. 

 


Kita akui bersama, tayangan televisi memang tidak semuanya buruk. Namun yang disayangkan adalah karena tayangan tidak mendidik itu menguasai mayoritas program acara televisi kita. Sehingga sikap waspada memang harus ditanamkan untuk kebaikan generasi kita di masa depan. Upaya selektif terhadap tontonan anak perlu diterapkan. Menemani anak-anak ketika menonton dan memberikan penejelasan terhadap tontonan adalah langkah konkret yang harusnya dilakukan. 

 


Bentuk kewaspadaan juga bisa ditunjukkan dengan memeriksa tontonan yang digemari anak-anak kita. Misalnya, ketika anak-anak gemar menonton film kartun, kita harus benar-benar tahu tentang konten film tersebut. Beberapa orang tua sempat melayangkan protes terhadap tayangan “Sinchan” beberapa waktu lalu. Tayangan “Shincan” dianggap telah menginspirasi perilaku kekerasan dan penyimpangan seksual pada anak. Artinya, tayangan kartun, meski dikemas lucu dan menarik, tetap memiliki dampak negatif pada anak.

 


Langkah lain yang bisa ditempuh adalah dengan mengalihkan perhatian anak terhadap televisi. Ini sangat mungkin dilakukan dengan mengajak anak-anak kita menikmati sensasi menarik dari media lain yang lebih mendidik. Kecanduan terhadap televisi biasanya menghilangkan minat anak terhadap buku. Kondisi ini bisa dilawan dengan mengajak anak-anak berkarib dengan buku sejak dini. Membacakan cerita atau mengajak anak-anak berstudi wisata bisa dicoba agar secara perlahan kebiasaan “TV Mania” bisa ditepis. 

 


Atas ragam dampak negatif yang ditimbulkan oleh televisi, setiap orang tua diharapkan mampu menerapkan konsep pendidikan media (media literasi) secara aplikatif di lingkungan keluarga. Jika meminjam teori perubahan dari Aa Gym, perubahan dimulai dari diri sendiri. Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita menjauhi televisi jika kita sebagai orang tua tidak melakukannya terlebih dahulu. Anak butuh contoh, dan paling memungkinkan memberikan contoh adalah para orang tuanya. Orang tua harus telah memastikan dirinya telah lepas dari belenggu kecanduan televisi, utamanya para ibu yang gemar menikmati tayangan “Gosip”.

 


Gerakan pendidikan media (media literasi) hendaknya menjadi perhatian setiap orang tua. Media literasi atau yang populis disebut melek media merupakan upaya proteksi diri terhadap ragam pengaruh buruk tontonan terhadap anak. Memahami media literasi dengan baik, maka setiap diri/orang tua akan mengetahui ragam propaganda yang menjadi bagian dari agenda media.

 


Propaganda yang dimaksud, seperti yang diungkap Gerbner dalam cultivation theory-nya. Gebner menyebut, dibandingkan media massa lain, televisi telah mendapatkan tempat sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan telah mendominasi “lingkungan simbolik” setiap orang dengan menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya (Mc Quail, 1996 : 254).

 


Karena televisi telah mendapat tempat signifikan dalam kehidupan kita, dengan mudahnya realitas kita dimanipulasi dan dijajah dengan menyuntikkan realitas baru. Realitas baru yang dimaksud adalah ragam hal yang diasumsikan sebagai kebutuhan, tetapi sebenarnya bukan. Kebutuhan ini dipersepsikan amat dangkal sehingga anak-anak kita menjadi tumbal. Ketika protes dilayangkan, media dengan mudahnya menjawab “kami tetap tayangan karena rating progam kami bertambah. Bertambahnya rating program acara berarti banyak yang suka.”

 


Kita tak bisa banyak berharap pada regulasi yang ada. Penerapan pendidikan media dalam keluarga adalah bagian dari upaya membangun kultur kritis untuk melawan propaganda media yang tidak sehat. Menunda dan membiarkan berarti membiarkan hidup anak-anak kita terus dijajah. Mari melawan untuk menyelamatkan generasi kita, menyelamatkan masa depan anak-anak kita.

*Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo. Aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Gorontalo.



Editor: Habari Hulondhalo

COPYRIGHT � 2012



Komentar Pembaca
    Kirim Komentar

    My Ballot Box
    Tita Walikota ta Otohilamu?













    Bilohi Hasil Poling
    Exit Jangan Lupa Klik Like Ya
      • 1
      Apakah Anda Merasa Puas Dengan Kontent-Konten mediagorontalo.com?
      Ya
      Tidak